Apa yang kita alami demi teman kadang-kadang melelahkan dan menjengkelkan, tetapi itulah yang membuat persahabatan mempunyai nilai yang indah.
Persahabatan sering menyuguhkan beberapa cobaan, tetapi persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu bahkan bertumbuh bersama karenanya..… Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi membutuhkan proses yang panjang seperti besi menajamkan besi, demikianlah sahabat menajamkan sahabatnya.
Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur-disakiti, diperhatikan-dikecewakan, didengar-diabaikan, dibantu-ditolak, namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan kebencian.
Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan, justru karena kasihnya ia memberanikan diri menegur apa adanya.
Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman, tetapi menyatakan apa yang amat menyakitkan dengan tujuan sahabatnya mau berubah.
Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha pemeliharaan dari kesetiaan, tetapi bukan pada saat kita membutuhkan bantuan barulah kita memiliki motivasi mencari perhatian, pertolongan dan pernyataaan kasih dari orang lain, tetapi justru ia berinisiatif memberikan dan mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh sahabatnya.
Kerinduannya adalah menjadi bagian dari kehidupan sahabatnya, karena tidak ada persahabatan yang diawali dengan sikap egoistis.
Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati, namun tidak semua orang berhasil mendapatkannya.
Banyak pula orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun ada juga yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya.
** Mempunyai satu sahabat sejati lebih berharga dari seribu teman yang mementingkan diri sendiri **
"Dalam masa kejayaan, teman-teman mengenal kita. Dalam kesengsaraan, kita mengenal teman-teman kita"
Ingatlah kapan terakhir kali anda berada dalam kesulitan.
Siapa yang berada di samping anda ?? Siapa yang mengasihi anda saat anda merasa tidak dicintai ??
Siapa yang ingin bersama anda saat anda tak bisa memberikan apa-apa ??
MEREKALAH SAHABAT ANDA Hargai dan peliharalah selalu persahabatan anda dengan mereka.
Kumpulan cerita(chicken soup), tulisan, renungan, cinta dan DOA yang dapat menambah nilai hidup dan motivasi di dalam kehidupan kita. Life for sharing and Love for unity. coz we are brother and sister
Jumat, 10 Desember 2010
Bagian terpenting tubuhmu
Ibuku selalu bertanya padaku, apa bagian tubuh yang paling penting. Bertahun-tahun, aku selalu menebak dengan jawaban yang aku anggap benar. Ketika aku muda, aku pikir suara adalah yang paling penting bagi kita sebagai manusia, jadi aku jawab, "Telinga, Bu." Tapi, ternyata itu bukan jawabannya.
"Bukan itu, Nak. Banyak orang yang tuli. Tapi, teruslah memikirkannya dan aku menanyakan lagi nanti."
Beberapa tahun kemudian, aku mencoba menjawab, sebelum dia bertanya padaku lagi. Sejak jawaban pertama, kini aku yakin jawaban kali ini pasti benar. Jadi, kali
ini aku memberitahukannya. "Bu, penglihatan sangat penting bagi semua orang, jadi pastilah mata kita."
Dia memandangku dan berkata, "Kamu belajar dengan cepat, tapi jawabanmu masih salah karena banyak orang yang buta."
Gagal lagi, aku meneruskan usahaku mencari jawaban baru dan dari tahun ke tahun, Ibu terus bertanya padaku beberapa kali dan jawaban dia selalu, "Bukan. Tapi, kamu makin pandai dari tahun ke tahun, Anakku."
Akhirnya tahun lalu, kakekku meninggal. Semua keluarga sedih. Semua menangis. Bahkan, ayahku menangis. Aku sangat ingat itu karena itulah saat kedua kalinya aku melihatnya menangis. Ibuku memandangku ketika tiba giliranku untuk mengucapkan selamat tinggal pada kakek.
Dia bertanya padaku, "Apakah kamu sudah tahu apa bagian tubuh yang paling penting, sayang?"
Aku terkejut ketika Ibu bertanya pada saat seperti ini. Aku sering berpikir, ini hanyalah permainan antara Ibu dan aku.
Ibu melihat kebingungan di wajahku dan memberitahuku, "Pertanyaan ini penting. Ini akan menunjukkan padamu apakah kamu sudah benar-benar "hidup". Untuk semua bagian tubuh yang kamu beritahu padaku dulu, aku selalu berkata kamu salah dan aku telah memberitahukan kamu kenapa. Tapi, hari ini adalah hari di mana kamu harus mendapat pelajaran yang sangat penting."
Dia memandangku dengan wajah keibuan. Aku melihat matanya penuh dengan air. Dia berkata, "Sayangku, bagian tubuh yang paling penting adalah bahumu."
Aku bertanya, "Apakah karena fungsinya untuk menahan kepala?"
Ibu membalas, "Bukan, tapi karena bahu dapat menahan kepala seorang teman atau orang yang kamu sayangi ketika mereka menangis. Kadang-kadang dalam hidup ini, semua orang perlu bahu untuk menangis. Aku cuma berharap, kamu punya cukup kasih sayang dan teman-teman agar kamu selalu punya bahu untuk menangis kapan pun kamu membutuhkannya."
Akhirnya, aku tahu, bagian tubuh yang paling penting adalah tidak menjadi orang yang mementingkan diri sendiri. Tapi, simpati terhadap penderitaan yang dialamin oleh orang lain. Orang akan melupakan apa yang kamu katakan. Orang akan melupakan apa yang kamu lakukan. Tapi, orang TIDAK akan pernah lupa bagaimana kamu membuat mereka berarti.
Sy and unknown
bf'ers member
"Bukan itu, Nak. Banyak orang yang tuli. Tapi, teruslah memikirkannya dan aku menanyakan lagi nanti."
Beberapa tahun kemudian, aku mencoba menjawab, sebelum dia bertanya padaku lagi. Sejak jawaban pertama, kini aku yakin jawaban kali ini pasti benar. Jadi, kali
ini aku memberitahukannya. "Bu, penglihatan sangat penting bagi semua orang, jadi pastilah mata kita."
Dia memandangku dan berkata, "Kamu belajar dengan cepat, tapi jawabanmu masih salah karena banyak orang yang buta."
Gagal lagi, aku meneruskan usahaku mencari jawaban baru dan dari tahun ke tahun, Ibu terus bertanya padaku beberapa kali dan jawaban dia selalu, "Bukan. Tapi, kamu makin pandai dari tahun ke tahun, Anakku."
Akhirnya tahun lalu, kakekku meninggal. Semua keluarga sedih. Semua menangis. Bahkan, ayahku menangis. Aku sangat ingat itu karena itulah saat kedua kalinya aku melihatnya menangis. Ibuku memandangku ketika tiba giliranku untuk mengucapkan selamat tinggal pada kakek.
Dia bertanya padaku, "Apakah kamu sudah tahu apa bagian tubuh yang paling penting, sayang?"
Aku terkejut ketika Ibu bertanya pada saat seperti ini. Aku sering berpikir, ini hanyalah permainan antara Ibu dan aku.
Ibu melihat kebingungan di wajahku dan memberitahuku, "Pertanyaan ini penting. Ini akan menunjukkan padamu apakah kamu sudah benar-benar "hidup". Untuk semua bagian tubuh yang kamu beritahu padaku dulu, aku selalu berkata kamu salah dan aku telah memberitahukan kamu kenapa. Tapi, hari ini adalah hari di mana kamu harus mendapat pelajaran yang sangat penting."
Dia memandangku dengan wajah keibuan. Aku melihat matanya penuh dengan air. Dia berkata, "Sayangku, bagian tubuh yang paling penting adalah bahumu."
Aku bertanya, "Apakah karena fungsinya untuk menahan kepala?"
Ibu membalas, "Bukan, tapi karena bahu dapat menahan kepala seorang teman atau orang yang kamu sayangi ketika mereka menangis. Kadang-kadang dalam hidup ini, semua orang perlu bahu untuk menangis. Aku cuma berharap, kamu punya cukup kasih sayang dan teman-teman agar kamu selalu punya bahu untuk menangis kapan pun kamu membutuhkannya."
Akhirnya, aku tahu, bagian tubuh yang paling penting adalah tidak menjadi orang yang mementingkan diri sendiri. Tapi, simpati terhadap penderitaan yang dialamin oleh orang lain. Orang akan melupakan apa yang kamu katakan. Orang akan melupakan apa yang kamu lakukan. Tapi, orang TIDAK akan pernah lupa bagaimana kamu membuat mereka berarti.
Sy and unknown
bf'ers member
Kamis, 02 Desember 2010
Arti Sebuah Kemenangan
Kemenangan bukanlah hanya ketika kita berhasil mengalahkan lawan di suatu pertandingan. Dan, bukan hanya ketika kita berhasil mencapai prestasi terbaik. Bahkan, bukan hanya ketika kita berhasil mendapatkan semua yang kita inginkan
dalam hidup ini.
Tapi, kemenangan adalah saat di mana kita dapat melawan suatu kegagalan. Saat di mana kita dapat mengatasi musibah. Saat di mana kita dapat bangkit dari suatu keadaan yang menyedihkan. Dan, saat di mana kita merasa sangat terpuruk namun kita mampu berjuang menghancurkan semua cobaan itu.
Kemenangan adalah saat di mana kita dapat menjadikan itu semua sebagai pertanda betapa sayangnya Sang Maha Pencipta kepada kita. Saat dimana kita menyadari betapa kita dapat belajar banyak dari semua kegagalan yang kita alami.
Dan, kemenangan adalah saat di mana kita melangkah begitu mantap dan yakin bahwa kita begitu hebat untuk sekedar melawan suatu kegagalan kecil. Saat dimana kita dapat mengalahkan diri kita sendiri, sehingga kadang-kadang kita merindukan sebuah kegagalan. Karena kegagalanlah yang membuat kita sadar di mana kita berada.
dalam hidup ini.
Tapi, kemenangan adalah saat di mana kita dapat melawan suatu kegagalan. Saat di mana kita dapat mengatasi musibah. Saat di mana kita dapat bangkit dari suatu keadaan yang menyedihkan. Dan, saat di mana kita merasa sangat terpuruk namun kita mampu berjuang menghancurkan semua cobaan itu.
Kemenangan adalah saat di mana kita dapat menjadikan itu semua sebagai pertanda betapa sayangnya Sang Maha Pencipta kepada kita. Saat dimana kita menyadari betapa kita dapat belajar banyak dari semua kegagalan yang kita alami.
Dan, kemenangan adalah saat di mana kita melangkah begitu mantap dan yakin bahwa kita begitu hebat untuk sekedar melawan suatu kegagalan kecil. Saat dimana kita dapat mengalahkan diri kita sendiri, sehingga kadang-kadang kita merindukan sebuah kegagalan. Karena kegagalanlah yang membuat kita sadar di mana kita berada.
Tempayan Retak
Seorang tukang air di India memiliki dua tempayan besar, masing-masing bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan, yang dibawanya menyilang pada bahunya.
Satu dari tempayan itu retak, sedangkan tempayan yang satunya lagi tidak. Jika tempayan yang tidak retak itu selalu dapat membawa air penuh setelah perjalanan panjang dari mata air ke rumah majikannya, tempayan retak itu hanya dapat membawa air setengah penuh.
Selama dua tahun, hal ini terjadi setiap hari. Si tukang air hanya dapat membawa satu setengah tempayan air ke rumah majikannya. Tentu saja si tempayan yang tidak retak merasa bangga akan prestasinya, karena dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna. Namun si tempayan retak yang malang itu merasa malu sekali akan ketidaksempurnaannya dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari porsi yang seharusnya dapat diberikannya.
Setelah dua tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini, tempayan retak itu berkata kepada si tukang air, "Saya sungguh malu pada diri saya sendiri, dan saya ingin mohon maaf kepadamu." "Kenapa?" tanya si tukang air.
"Kenapa kamu merasa malu?" "Saya hanya mampu, selama dua tahun ini, membawa setengah porsi air dari yang seharusnya dapat saya bawa karena adanya retakan pada sisi saya telah membuat air yang saya bawa bocor sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Karena cacatku itu, saya telah membuatmu rugi," kata tempayan itu.
Si tukang air merasa kasihan pada si tempayan retak, dan dalam belas kasihannya, ia berkata, "Jika kita kembali ke rumah majikan besok, aku ingin kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan."
Benar, ketika mereka naik ke bukit, si tempayan retak memperhatikan dan baru menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan. Itu membuatnya sedikit terhibur.
Namun pada akhir perjalanan, ia kembali sedih karena separuh air yang dibawanya telah bocor, dan kembali tempayan retak itu meminta maaf pada si tukang air atas kegagalannya. Si tukang air berkata kepada tempayan itu, "Apakah kamu memperhatikan adanya bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu tapi tidak ada bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan yang lain yang tidak retak itu? Itu karena aku selalu menyadari akan cacatmu dan aku memanfaatkannya. Aku telah menanam benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu, dan setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air, kamu mengairi benih-benih itu. Selama dua tahun ini aku telah dapat memetik bunga-bunga indah itu untuk menghias meja majikan kita.
Tanpa kamu sebagaimana kamu ada, majikan kita tak akan dapat menghias rumahnya seindah sekarang."
Setiap dari kita memiliki cacat dan kekurangan kita sendiri. Kita semua adalah tempayan retak. Namun jika kita mau, Tuhan akan menggunakan kekurangan kita untuk menghias dunianya. Di mata Tuhan yang bijaksana, tak ada yang terbuang percuma. Jangan takut akan kekuranganmu.
Kenalilah kelemahanmu dan kamu pun dapat menjadi sarana keindahan Tuhan. Ketahuilah, di dalam kelemahan kita, kita menemukan kekuatan kita
Satu dari tempayan itu retak, sedangkan tempayan yang satunya lagi tidak. Jika tempayan yang tidak retak itu selalu dapat membawa air penuh setelah perjalanan panjang dari mata air ke rumah majikannya, tempayan retak itu hanya dapat membawa air setengah penuh.
Selama dua tahun, hal ini terjadi setiap hari. Si tukang air hanya dapat membawa satu setengah tempayan air ke rumah majikannya. Tentu saja si tempayan yang tidak retak merasa bangga akan prestasinya, karena dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna. Namun si tempayan retak yang malang itu merasa malu sekali akan ketidaksempurnaannya dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari porsi yang seharusnya dapat diberikannya.
Setelah dua tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini, tempayan retak itu berkata kepada si tukang air, "Saya sungguh malu pada diri saya sendiri, dan saya ingin mohon maaf kepadamu." "Kenapa?" tanya si tukang air.
"Kenapa kamu merasa malu?" "Saya hanya mampu, selama dua tahun ini, membawa setengah porsi air dari yang seharusnya dapat saya bawa karena adanya retakan pada sisi saya telah membuat air yang saya bawa bocor sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Karena cacatku itu, saya telah membuatmu rugi," kata tempayan itu.
Si tukang air merasa kasihan pada si tempayan retak, dan dalam belas kasihannya, ia berkata, "Jika kita kembali ke rumah majikan besok, aku ingin kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan."
Benar, ketika mereka naik ke bukit, si tempayan retak memperhatikan dan baru menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan. Itu membuatnya sedikit terhibur.
Namun pada akhir perjalanan, ia kembali sedih karena separuh air yang dibawanya telah bocor, dan kembali tempayan retak itu meminta maaf pada si tukang air atas kegagalannya. Si tukang air berkata kepada tempayan itu, "Apakah kamu memperhatikan adanya bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu tapi tidak ada bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan yang lain yang tidak retak itu? Itu karena aku selalu menyadari akan cacatmu dan aku memanfaatkannya. Aku telah menanam benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu, dan setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air, kamu mengairi benih-benih itu. Selama dua tahun ini aku telah dapat memetik bunga-bunga indah itu untuk menghias meja majikan kita.
Tanpa kamu sebagaimana kamu ada, majikan kita tak akan dapat menghias rumahnya seindah sekarang."
Setiap dari kita memiliki cacat dan kekurangan kita sendiri. Kita semua adalah tempayan retak. Namun jika kita mau, Tuhan akan menggunakan kekurangan kita untuk menghias dunianya. Di mata Tuhan yang bijaksana, tak ada yang terbuang percuma. Jangan takut akan kekuranganmu.
Kenalilah kelemahanmu dan kamu pun dapat menjadi sarana keindahan Tuhan. Ketahuilah, di dalam kelemahan kita, kita menemukan kekuatan kita
Selasa, 30 November 2010
AKU TAK SELALU MENDAPATKAN APA YANG KUSUKAI, OLEH KARENA ITU AKU SELALU MENYUKAI APAPUN YANG AKU DAPATKAN.
Kata-Kata Diatas merupakan wujud syukur. Syukur
merupakan kualitas hati yang
terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa
diliputi rasa damai,
tentram dan bahagia.
Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa
membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan
tak bahagia.
Ada dua hal yang sering membuat kita tak bersyukur.
Pertama: Kita sering memfokuskan diri pada apa
yang kita inginkan, bukan
pada apa yang kita miliki.
Bersyukurlah bahwa kamu belum siap memiliki segala
sesuatu yang kamu
inginkan ....
Seandainya sudah, apalagi yang harus diinginkan ?
Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu ...
Karena itu memberimu kesempatan untuk belajar ...
Bersyukurlah untuk masa-masa sulit ....
Di masa itulah kamu tumbuh ...
Bersyukurlah untuk keterbatasanmu ...
Karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang ...
Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru ...
Karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu ...
Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat ...
Itu akan mengajarkan pelajaran yang berharga ...
Bersyukurlah bila kamu lelah dan letih ...
Karena itu kamu telah membuat suatu perbedaan ...
Mungkin mudah untuk kita bersyukur akan hal-hal
yang baik...
Hidup yang berkelimpahan datang pada mereka yang
juga bersyukur akan masa
surut...
Rasa syukur dapat mengubah hal yang negatif
menjadi positif...
Temukan cara bersyukur akan masalah-masalahmu dan
semua itu akan menjadi
berkah bagimu ...
merupakan kualitas hati yang
terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa
diliputi rasa damai,
tentram dan bahagia.
Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa
membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan
tak bahagia.
Ada dua hal yang sering membuat kita tak bersyukur.
Pertama: Kita sering memfokuskan diri pada apa
yang kita inginkan, bukan
pada apa yang kita miliki.
Bersyukurlah bahwa kamu belum siap memiliki segala
sesuatu yang kamu
inginkan ....
Seandainya sudah, apalagi yang harus diinginkan ?
Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu ...
Karena itu memberimu kesempatan untuk belajar ...
Bersyukurlah untuk masa-masa sulit ....
Di masa itulah kamu tumbuh ...
Bersyukurlah untuk keterbatasanmu ...
Karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang ...
Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru ...
Karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu ...
Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat ...
Itu akan mengajarkan pelajaran yang berharga ...
Bersyukurlah bila kamu lelah dan letih ...
Karena itu kamu telah membuat suatu perbedaan ...
Mungkin mudah untuk kita bersyukur akan hal-hal
yang baik...
Hidup yang berkelimpahan datang pada mereka yang
juga bersyukur akan masa
surut...
Rasa syukur dapat mengubah hal yang negatif
menjadi positif...
Temukan cara bersyukur akan masalah-masalahmu dan
semua itu akan menjadi
berkah bagimu ...
Cinta tidak Hanya berwujud Bunga
Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai
sifatnya yang alami dan
saya menyukai perasaan hangat yang muncul di hati
saya ketika saya
bersandar di bahunya yang bidang. Tiga tahun dalam
masa perkenalan, dan dua
tahun dalam masa pernikahan, saya harus akui,
bahwa saya mulai merasa
lelah, alasan-2 saya mencintainya dulu telah
berubah menjadi sesuatu yang
menjemukan.
Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-2
sensitif serta berperasaan
halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti
seorang anak yang
menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah
saya dapatkan. Suami
saya
jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa
sensitif-nya kurang. Dan
ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang
romantis dalam pernikahan
kami telah mementahkan semua harapan saya akan
cinta yang ideal.
Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan
keputusan saya kepadanya,
bahwa saya menginginkan perceraian. "Mengapa?",
dia bertanya dengan
terkejut. "Saya lelah, kamu tidak pernah bisa
memberikan cinta yang saya
inginkan" Dia terdiam dan termenung sepanjang
malam di depan komputernya,
tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu,
padahal tidak.
Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria
yang bahkan tidak dapat
mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa
saya harapkan darinya? Dan
akhirnya dia bertanya, "Apa yang dapat saya
lakukan untuk merubah
pikiranmu?". Saya menatap matanya dalam-dalam dan
menjawab dengan pelan,
"Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan
jawabannya di dalam hati
saya, saya akan merubah pikiran saya: Seandainya,
saya menyukai setangkai
bunga indah yang ada di tebing gunung dan kita
berdua tahu jika kamu
memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu
akan melakukannya untuk
saya?"
Dia termenung dan akhirnya berkata, "Saya akan
memberikan jawabannya
besok."
Hati saya langsung gundah mendengar responnya.
Keesokan paginya, dia tidak
ada dirumah, dan saya menemukan selembar kertas
dengan oret-2an tangannya
dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang
bertuliskan.... "Sayang,
saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu,
tetapi ijinkan saya untuk
menjelaskan alasannya." Kalimat pertama ini
menghancurkan hati saya. Saya
melanjutkan untuk membacanya.
"Kamu bisa mengetik di komputer dan selalu
mengacaukan program di PC-nya
dan
akhirnya menangis di depan monitor, saya harus
memberikan jari-2 saya
supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya."
"Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu
keluar rumah, dan saya
harus memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak
pintu, dan membukakan
pintu untukmu ketika pulang.".
"Kamu suka jalan-2 ke luar kota tetapi selalu
nyasar di tempat-tempat baru
yang kamu kunjungi, saya harus menunggu di rumah
agar bisa memberikan mata
saya untuk mengarahkanmu."
"Kamu selalu pegal-2 pada waktu 'teman baikmu'
datang setiap bulannya, dan
saya harus memberikan tangan saya untuk memijat
kakimu yang pegal."
"Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir
kamu akan menjadi
'aneh'.
Dan harus membelikan sesuatu yang dapat
menghiburmu di rumah atau
meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal
lucu yang aku alami."
"Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan
itu tidak baik untuk
kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya
agar ketika kita tua nanti,
saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu
dan mencabuti ubanmu."
"Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu
menelusuri pantai, menikmati
matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan
warna2 bunga yang
bersinar
dan indah seperti cantiknya wajahmu".
"Tetapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga
itu untuk mati. Karena,
saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir
menangisi kematianku."
"Sayangku, saya tahu, ada banyak orang yang bisa
mencintaimu lebih dari
saya
mencintaimu."
"Untuk itu sayang, jika semua yang telah diberikan
tanganku, kakiku,
mataku,
tidak cukup bagimu. aku tidak bisa menahan dirimu
mencari tangan, kaki,
dan
mata lain yang dapat membahagiakanmu."
Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat
tintanya menjadi kabur,
tetapi saya tetap berusaha untuk membacanya.
"Dan sekarang, sayangku, kamu telah selasai
membaca jawaban saya. Jika kamu
puas dengan semua jawaban ini, dan tetap
menginginkanku untuk tinggal di
rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya
sekarang sedang berdiri
disana menunggu jawabanmu."
"Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk
untuk membereskan
barang-barangku, dan aku tidak akan mempersulit
hidupmu. Percayalah,
bahagiaku bila kau bahagia.".
Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya
berdiri di depan pintu
dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang
susu dan roti kesukaanku.
Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah
mencintai saya lebih dari
dia mencintaiku. Itulah cinta, di saat kita merasa
cinta itu telah
berangsur-angsur hilang dari hati kita karena kita
merasa dia tidak dapat
memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan,
maka cinta itu
sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang
tidak pernah kita bayangkan
sebelumnya. Seringkali yang kita butuhkan adalah
memahami wujud cinta dari
pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud
tertentu. Karena cinta tidak
selalu harus berwujud "bunga".
sifatnya yang alami dan
saya menyukai perasaan hangat yang muncul di hati
saya ketika saya
bersandar di bahunya yang bidang. Tiga tahun dalam
masa perkenalan, dan dua
tahun dalam masa pernikahan, saya harus akui,
bahwa saya mulai merasa
lelah, alasan-2 saya mencintainya dulu telah
berubah menjadi sesuatu yang
menjemukan.
Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-2
sensitif serta berperasaan
halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti
seorang anak yang
menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah
saya dapatkan. Suami
saya
jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa
sensitif-nya kurang. Dan
ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang
romantis dalam pernikahan
kami telah mementahkan semua harapan saya akan
cinta yang ideal.
Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan
keputusan saya kepadanya,
bahwa saya menginginkan perceraian. "Mengapa?",
dia bertanya dengan
terkejut. "Saya lelah, kamu tidak pernah bisa
memberikan cinta yang saya
inginkan" Dia terdiam dan termenung sepanjang
malam di depan komputernya,
tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu,
padahal tidak.
Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria
yang bahkan tidak dapat
mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa
saya harapkan darinya? Dan
akhirnya dia bertanya, "Apa yang dapat saya
lakukan untuk merubah
pikiranmu?". Saya menatap matanya dalam-dalam dan
menjawab dengan pelan,
"Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan
jawabannya di dalam hati
saya, saya akan merubah pikiran saya: Seandainya,
saya menyukai setangkai
bunga indah yang ada di tebing gunung dan kita
berdua tahu jika kamu
memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu
akan melakukannya untuk
saya?"
Dia termenung dan akhirnya berkata, "Saya akan
memberikan jawabannya
besok."
Hati saya langsung gundah mendengar responnya.
Keesokan paginya, dia tidak
ada dirumah, dan saya menemukan selembar kertas
dengan oret-2an tangannya
dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang
bertuliskan.... "Sayang,
saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu,
tetapi ijinkan saya untuk
menjelaskan alasannya." Kalimat pertama ini
menghancurkan hati saya. Saya
melanjutkan untuk membacanya.
"Kamu bisa mengetik di komputer dan selalu
mengacaukan program di PC-nya
dan
akhirnya menangis di depan monitor, saya harus
memberikan jari-2 saya
supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya."
"Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu
keluar rumah, dan saya
harus memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak
pintu, dan membukakan
pintu untukmu ketika pulang.".
"Kamu suka jalan-2 ke luar kota tetapi selalu
nyasar di tempat-tempat baru
yang kamu kunjungi, saya harus menunggu di rumah
agar bisa memberikan mata
saya untuk mengarahkanmu."
"Kamu selalu pegal-2 pada waktu 'teman baikmu'
datang setiap bulannya, dan
saya harus memberikan tangan saya untuk memijat
kakimu yang pegal."
"Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir
kamu akan menjadi
'aneh'.
Dan harus membelikan sesuatu yang dapat
menghiburmu di rumah atau
meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal
lucu yang aku alami."
"Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan
itu tidak baik untuk
kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya
agar ketika kita tua nanti,
saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu
dan mencabuti ubanmu."
"Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu
menelusuri pantai, menikmati
matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan
warna2 bunga yang
bersinar
dan indah seperti cantiknya wajahmu".
"Tetapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga
itu untuk mati. Karena,
saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir
menangisi kematianku."
"Sayangku, saya tahu, ada banyak orang yang bisa
mencintaimu lebih dari
saya
mencintaimu."
"Untuk itu sayang, jika semua yang telah diberikan
tanganku, kakiku,
mataku,
tidak cukup bagimu. aku tidak bisa menahan dirimu
mencari tangan, kaki,
dan
mata lain yang dapat membahagiakanmu."
Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat
tintanya menjadi kabur,
tetapi saya tetap berusaha untuk membacanya.
"Dan sekarang, sayangku, kamu telah selasai
membaca jawaban saya. Jika kamu
puas dengan semua jawaban ini, dan tetap
menginginkanku untuk tinggal di
rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya
sekarang sedang berdiri
disana menunggu jawabanmu."
"Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk
untuk membereskan
barang-barangku, dan aku tidak akan mempersulit
hidupmu. Percayalah,
bahagiaku bila kau bahagia.".
Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya
berdiri di depan pintu
dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang
susu dan roti kesukaanku.
Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah
mencintai saya lebih dari
dia mencintaiku. Itulah cinta, di saat kita merasa
cinta itu telah
berangsur-angsur hilang dari hati kita karena kita
merasa dia tidak dapat
memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan,
maka cinta itu
sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang
tidak pernah kita bayangkan
sebelumnya. Seringkali yang kita butuhkan adalah
memahami wujud cinta dari
pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud
tertentu. Karena cinta tidak
selalu harus berwujud "bunga".
Suami dan Istri
Bwat suami ku ( Abie …….. )
Tingginya derajat suami ditentukan oleh perjuangannya menjadi pemimpin rumah tangga, sehingga ia akan terus menuntut dirinya untuk senantiasa menjadi teladan yang baik bagi keluarga yang dipimpinnya. Seorang suami pilihan Allah tidak pernah mau jadi beban bagi istrinya. Ia akan senantiasa memuji dan membuat sang istri senang. Menjadikan kekurangan istrinya menjadi ladang amal untuk berlapang hati dan membantunya untuk selalu berjuang memperbaiki diri. Ia juga akan selalu berlapang dada ketika bertukar pikiran membahas masalah-masalah yang ada di keluarganya dengan adil. Pada malam hari, ia akan mengajak istrinya untuk bermunajat menghadap Allah bersama-sama, meminta kepada Allah sebuah keluarga yang mendapatkan perlindungan-Nya pada saat tiada lagi perlindungan lain selain hanya dari-Nya
Rahasia dari semua itu adalah perjuangan maksimal untuk memiliki ilmu tentang hal tersebut. Ilmu inilah yang akan membangun kebahagiaan di rumah tangga. Dengan ilmu ini, seorang suami atau istri akan berbuat apa pun dengan penuh keikhlasan dan merasa ridha dalam melayani dan berkhidmat terhadap pasangannya masing-masing.***
Wahai Tuhan kami! Karuniakanlah kepada kami istri dan keturunan yang menjadi cahaya mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang memelihara dirinya (dari kejahatan)." (Q.S. Al-Furqaan [25]:74)
Ciri-ciri dari yang dimaksud oleh doa ini adalah istri yang menyejukkan ketika dipandang, dapat menjadi teladan bagi siapa pun. Ia juga tidak akan pernah memperlihatkan wajah yang muram durja, berbicara ketus dan rona wajah yang menyeramkan. Akhlaknya akan terlihat jauh lebih indah dibanding kecantikan wajah dan tubuhnya.
Akhlaknya akan tercermin dalam perilakunya sehari-hari, baik terhadap suami maupun orang lain di luar keluarganya. Dia senantiasa menghormati sang suami, meski suaminya berumur sama dengannya. Kata-kata yang keluar dari mulutnya terasa menyejukkan, bersih, dan penuh kearifan sehingga tidak pernah ada yang terlukai.
Oleh karena itu, meski ia terus beranjak tua dan berubah karena perjuangannya dalam melahirkan dan membesarkan anak-anak, namun wajahnya tetap terlihat cerah dan bersinar. Hal itu tiada lain karena cerminan dari suasana hati yang senantiasa bersih dan bening. Di samping itu, ia juga akan senantiasa bersyukur, menghadapi setiap kejadian dengan sabar dan yakin akan pelajaran dari Allah.
Istri seperti ini tidak pernah meminta hal yang menjadi ketidakmampuan suaminya. Ia tidak pernah mau didahului bangun oleh suaminya, melainkan terlebih dahulu salat dan munajat kepada Allah. Ia juga akan senantiasa memohon izin kepada suaminya untuk melakukan apa pun yang akan ia kerjakan. Inilah sesungguhnya yang dimaksudkan dengan istri salehah yang menjadi perhiasan paling berharga bagi para suami.
Sekali lagi, ini di ambil dari Harian Pikiran Rakyat, Topik; Manajemen Qolbu
Tingginya derajat suami ditentukan oleh perjuangannya menjadi pemimpin rumah tangga, sehingga ia akan terus menuntut dirinya untuk senantiasa menjadi teladan yang baik bagi keluarga yang dipimpinnya. Seorang suami pilihan Allah tidak pernah mau jadi beban bagi istrinya. Ia akan senantiasa memuji dan membuat sang istri senang. Menjadikan kekurangan istrinya menjadi ladang amal untuk berlapang hati dan membantunya untuk selalu berjuang memperbaiki diri. Ia juga akan selalu berlapang dada ketika bertukar pikiran membahas masalah-masalah yang ada di keluarganya dengan adil. Pada malam hari, ia akan mengajak istrinya untuk bermunajat menghadap Allah bersama-sama, meminta kepada Allah sebuah keluarga yang mendapatkan perlindungan-Nya pada saat tiada lagi perlindungan lain selain hanya dari-Nya
Rahasia dari semua itu adalah perjuangan maksimal untuk memiliki ilmu tentang hal tersebut. Ilmu inilah yang akan membangun kebahagiaan di rumah tangga. Dengan ilmu ini, seorang suami atau istri akan berbuat apa pun dengan penuh keikhlasan dan merasa ridha dalam melayani dan berkhidmat terhadap pasangannya masing-masing.***
Wahai Tuhan kami! Karuniakanlah kepada kami istri dan keturunan yang menjadi cahaya mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang memelihara dirinya (dari kejahatan)." (Q.S. Al-Furqaan [25]:74)
Ciri-ciri dari yang dimaksud oleh doa ini adalah istri yang menyejukkan ketika dipandang, dapat menjadi teladan bagi siapa pun. Ia juga tidak akan pernah memperlihatkan wajah yang muram durja, berbicara ketus dan rona wajah yang menyeramkan. Akhlaknya akan terlihat jauh lebih indah dibanding kecantikan wajah dan tubuhnya.
Akhlaknya akan tercermin dalam perilakunya sehari-hari, baik terhadap suami maupun orang lain di luar keluarganya. Dia senantiasa menghormati sang suami, meski suaminya berumur sama dengannya. Kata-kata yang keluar dari mulutnya terasa menyejukkan, bersih, dan penuh kearifan sehingga tidak pernah ada yang terlukai.
Oleh karena itu, meski ia terus beranjak tua dan berubah karena perjuangannya dalam melahirkan dan membesarkan anak-anak, namun wajahnya tetap terlihat cerah dan bersinar. Hal itu tiada lain karena cerminan dari suasana hati yang senantiasa bersih dan bening. Di samping itu, ia juga akan senantiasa bersyukur, menghadapi setiap kejadian dengan sabar dan yakin akan pelajaran dari Allah.
Istri seperti ini tidak pernah meminta hal yang menjadi ketidakmampuan suaminya. Ia tidak pernah mau didahului bangun oleh suaminya, melainkan terlebih dahulu salat dan munajat kepada Allah. Ia juga akan senantiasa memohon izin kepada suaminya untuk melakukan apa pun yang akan ia kerjakan. Inilah sesungguhnya yang dimaksudkan dengan istri salehah yang menjadi perhiasan paling berharga bagi para suami.
Sekali lagi, ini di ambil dari Harian Pikiran Rakyat, Topik; Manajemen Qolbu
Entah apakah anda berpikir, bisa atau tidak bisa
Di British Columbia, dibangun sebuah penjara baru untuk menggantikan penjara Fort Alcan lama yang sudah digunakan untuk menampung para narapidana selama ratusan tahun. Setelah para napi dipindahkan ke tempat tinggal mereka yang baru, mereka menjadi bagian dari pasukan pekerja untuk mencopoti kayu, alat-alat listrik, dan pipa yang masih dapat digunakan dari penjara lama. Di bawah pengawasan para penjaga, napi-napi itu mulai melucuti dinding-dinding penjara lama.
Saat mereka melakukannya, mereka terperanjat oleh apa yang mereka temukan. Walaupun gembok-gembok besar mengunci pintu-pintu logam, dan batangan-batangan baja dua inci menutupi jendela sel-sel, dinding-dinding penjara itu sebenarnya terbuat dari kertas dan tanah liat, dicat sedemikian rupa sehingga menyerupai besi! Jika ada dari para narapidana yang memukul atau menendang dinding itu dengan keras, mereka dengan mudah dapat membuat lubang di situ, dan melarikan diri. Selama bertahun-tahun, bagaimanapun juga, mereka tinggal berjubel dalam sel-sel terkunci mereka, menganggap bahwa melarikan diri adalah sesuatu yang mustahil.
Tak seorang pun pernah MENCOBA melarikan diri, karena mereka BERPIKIR itu mustahil.
Saat ini, banyak orang merupakan tawanan rasa takut. Mereka tak pernah berusaha mengejar impian-impian mereka karena berpikir bahwa itu merupakan sesuatu yang mustahil. Bagaimana Anda tahu bahwa Anda tak dapat berhasil bila Anda tidak mencoba?
shy and unknown bf'ers
Saat mereka melakukannya, mereka terperanjat oleh apa yang mereka temukan. Walaupun gembok-gembok besar mengunci pintu-pintu logam, dan batangan-batangan baja dua inci menutupi jendela sel-sel, dinding-dinding penjara itu sebenarnya terbuat dari kertas dan tanah liat, dicat sedemikian rupa sehingga menyerupai besi! Jika ada dari para narapidana yang memukul atau menendang dinding itu dengan keras, mereka dengan mudah dapat membuat lubang di situ, dan melarikan diri. Selama bertahun-tahun, bagaimanapun juga, mereka tinggal berjubel dalam sel-sel terkunci mereka, menganggap bahwa melarikan diri adalah sesuatu yang mustahil.
Tak seorang pun pernah MENCOBA melarikan diri, karena mereka BERPIKIR itu mustahil.
Saat ini, banyak orang merupakan tawanan rasa takut. Mereka tak pernah berusaha mengejar impian-impian mereka karena berpikir bahwa itu merupakan sesuatu yang mustahil. Bagaimana Anda tahu bahwa Anda tak dapat berhasil bila Anda tidak mencoba?
shy and unknown bf'ers
Senin, 29 November 2010
Mengapa berteriak
Suatu hari sang guru bertanya pada murid-murid nya; "Mengapa ketika
seseorang sedang marah, ia akan berbicara dengan suara keras atau
berteriak?
Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan
menjawab;
"Karena saat itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu
berteriak"
"Tapi.." sang guru balik bertanya, "lawan bicaranya justru berada di
sampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara
secara
halus?"
Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut
pertimbangan mereka. Namun tak satupun jawabannya yang memuaskan.
"Ketika dua orang sedang berasa dalam situasi kemarahan, jarak antara
ke dua
hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begiu dekat.
Karena
itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak. namun
anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi
marah
dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun
menjadi
lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras
lagi."
Sang guru masih melanjutkan...
"Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta?
Mereka
tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang
keluar
dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apapun, keduanya bisa
mendengarkan dengan begitu jelas.Mengapa demikian?"
Sang guru bertanya sambil memperhatikan para muridnya. Mereka nampak
berpikir amat dalam namun tak satupun berani memberikan jawaban.
"Karena hari mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada
akhirnya
sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangna mata saja amatlah
cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan."
Sang guru masih melanjutkan...
"Ketika anda sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan
jarak.
Lebih lagi hendaknya kamu tidak mengucapkan kata yang mendatangkan
jarak di antara kamu. Mungkin di saat seperti itu, tak mengucapkan kata-kata
mungkinmerupakan cara yang bijaksana. Karena waktu akan membantu anda.
seseorang sedang marah, ia akan berbicara dengan suara keras atau
berteriak?
Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan
menjawab;
"Karena saat itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu
berteriak"
"Tapi.." sang guru balik bertanya, "lawan bicaranya justru berada di
sampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara
secara
halus?"
Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut
pertimbangan mereka. Namun tak satupun jawabannya yang memuaskan.
"Ketika dua orang sedang berasa dalam situasi kemarahan, jarak antara
ke dua
hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begiu dekat.
Karena
itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak. namun
anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi
marah
dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun
menjadi
lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras
lagi."
Sang guru masih melanjutkan...
"Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta?
Mereka
tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang
keluar
dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apapun, keduanya bisa
mendengarkan dengan begitu jelas.Mengapa demikian?"
Sang guru bertanya sambil memperhatikan para muridnya. Mereka nampak
berpikir amat dalam namun tak satupun berani memberikan jawaban.
"Karena hari mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada
akhirnya
sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangna mata saja amatlah
cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan."
Sang guru masih melanjutkan...
"Ketika anda sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan
jarak.
Lebih lagi hendaknya kamu tidak mengucapkan kata yang mendatangkan
jarak di antara kamu. Mungkin di saat seperti itu, tak mengucapkan kata-kata
mungkinmerupakan cara yang bijaksana. Karena waktu akan membantu anda.
Langganan:
Komentar (Atom)