Selasa, 30 November 2010

AKU TAK SELALU MENDAPATKAN APA YANG KUSUKAI, OLEH KARENA ITU AKU SELALU MENYUKAI APAPUN YANG AKU DAPATKAN.

Kata-Kata Diatas merupakan wujud syukur. Syukur
merupakan kualitas hati yang
terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa
diliputi rasa damai,
tentram dan bahagia.

Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa
membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan
tak bahagia.

Ada dua hal yang sering membuat kita tak bersyukur.
Pertama: Kita sering memfokuskan diri pada apa
yang kita inginkan, bukan
pada apa yang kita miliki.

Bersyukurlah bahwa kamu belum siap memiliki segala
sesuatu yang kamu
inginkan ....
Seandainya sudah, apalagi yang harus diinginkan ?
Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu ...
Karena itu memberimu kesempatan untuk belajar ...
Bersyukurlah untuk masa-masa sulit ....
Di masa itulah kamu tumbuh ...
Bersyukurlah untuk keterbatasanmu ...
Karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang ...

Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru ...
Karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu ...

Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat ...
Itu akan mengajarkan pelajaran yang berharga ...

Bersyukurlah bila kamu lelah dan letih ...
Karena itu kamu telah membuat suatu perbedaan ...

Mungkin mudah untuk kita bersyukur akan hal-hal
yang baik...
Hidup yang berkelimpahan datang pada mereka yang
juga bersyukur akan masa
surut...
Rasa syukur dapat mengubah hal yang negatif
menjadi positif...
Temukan cara bersyukur akan masalah-masalahmu dan
semua itu akan menjadi
berkah bagimu ...

Cinta tidak Hanya berwujud Bunga

Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai
sifatnya yang alami dan
saya menyukai perasaan hangat yang muncul di hati
saya ketika saya
bersandar di bahunya yang bidang. Tiga tahun dalam
masa perkenalan, dan dua
tahun dalam masa pernikahan, saya harus akui,
bahwa saya mulai merasa
lelah, alasan-2 saya mencintainya dulu telah
berubah menjadi sesuatu yang
menjemukan.

Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-2
sensitif serta berperasaan
halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti
seorang anak yang
menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah
saya dapatkan. Suami
saya
jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa
sensitif-nya kurang. Dan
ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang
romantis dalam pernikahan
kami telah mementahkan semua harapan saya akan
cinta yang ideal.

Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan
keputusan saya kepadanya,
bahwa saya menginginkan perceraian. "Mengapa?",
dia bertanya dengan
terkejut. "Saya lelah, kamu tidak pernah bisa
memberikan cinta yang saya
inginkan" Dia terdiam dan termenung sepanjang
malam di depan komputernya,
tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu,
padahal tidak.

Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria
yang bahkan tidak dapat
mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa
saya harapkan darinya? Dan
akhirnya dia bertanya, "Apa yang dapat saya
lakukan untuk merubah
pikiranmu?". Saya menatap matanya dalam-dalam dan
menjawab dengan pelan,
"Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan
jawabannya di dalam hati
saya, saya akan merubah pikiran saya: Seandainya,
saya menyukai setangkai
bunga indah yang ada di tebing gunung dan kita
berdua tahu jika kamu
memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu
akan melakukannya untuk
saya?"
Dia termenung dan akhirnya berkata, "Saya akan
memberikan jawabannya
besok."
Hati saya langsung gundah mendengar responnya.
Keesokan paginya, dia tidak
ada dirumah, dan saya menemukan selembar kertas
dengan oret-2an tangannya
dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang
bertuliskan.... "Sayang,
saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu,
tetapi ijinkan saya untuk
menjelaskan alasannya." Kalimat pertama ini
menghancurkan hati saya. Saya
melanjutkan untuk membacanya.

"Kamu bisa mengetik di komputer dan selalu
mengacaukan program di PC-nya
dan
akhirnya menangis di depan monitor, saya harus
memberikan jari-2 saya
supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya."

"Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu
keluar rumah, dan saya
harus memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak
pintu, dan membukakan
pintu untukmu ketika pulang.".

"Kamu suka jalan-2 ke luar kota tetapi selalu
nyasar di tempat-tempat baru
yang kamu kunjungi, saya harus menunggu di rumah
agar bisa memberikan mata
saya untuk mengarahkanmu."
"Kamu selalu pegal-2 pada waktu 'teman baikmu'
datang setiap bulannya, dan
saya harus memberikan tangan saya untuk memijat
kakimu yang pegal."

"Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir
kamu akan menjadi
'aneh'.
Dan harus membelikan sesuatu yang dapat
menghiburmu di rumah atau
meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal
lucu yang aku alami."

"Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan
itu tidak baik untuk
kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya
agar ketika kita tua nanti,
saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu
dan mencabuti ubanmu."

"Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu
menelusuri pantai, menikmati
matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan
warna2 bunga yang
bersinar
dan indah seperti cantiknya wajahmu".
"Tetapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga
itu untuk mati. Karena,
saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir
menangisi kematianku."

"Sayangku, saya tahu, ada banyak orang yang bisa
mencintaimu lebih dari
saya
mencintaimu."

"Untuk itu sayang, jika semua yang telah diberikan
tanganku, kakiku,
mataku,
tidak cukup bagimu. aku tidak bisa menahan dirimu
mencari tangan, kaki,
dan
mata lain yang dapat membahagiakanmu."

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat
tintanya menjadi kabur,
tetapi saya tetap berusaha untuk membacanya.

"Dan sekarang, sayangku, kamu telah selasai
membaca jawaban saya. Jika kamu
puas dengan semua jawaban ini, dan tetap
menginginkanku untuk tinggal di
rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya
sekarang sedang berdiri
disana menunggu jawabanmu."

"Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk
untuk membereskan
barang-barangku, dan aku tidak akan mempersulit
hidupmu. Percayalah,
bahagiaku bila kau bahagia.".

Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya
berdiri di depan pintu
dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang
susu dan roti kesukaanku.


Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah
mencintai saya lebih dari
dia mencintaiku. Itulah cinta, di saat kita merasa
cinta itu telah
berangsur-angsur hilang dari hati kita karena kita
merasa dia tidak dapat
memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan,
maka cinta itu
sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang
tidak pernah kita bayangkan
sebelumnya. Seringkali yang kita butuhkan adalah
memahami wujud cinta dari
pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud
tertentu. Karena cinta tidak

selalu harus berwujud "bunga".

Suami dan Istri

Bwat suami ku ( Abie …….. )
Tingginya derajat suami ditentukan oleh perjuangannya menjadi pemimpin rumah tangga, sehingga ia akan terus menuntut dirinya untuk senantiasa menjadi teladan yang baik bagi keluarga yang dipimpinnya. Seorang suami pilihan Allah tidak pernah mau jadi beban bagi istrinya. Ia akan senantiasa memuji dan membuat sang istri senang. Menjadikan kekurangan istrinya menjadi ladang amal untuk berlapang hati dan membantunya untuk selalu berjuang memperbaiki diri. Ia juga akan selalu berlapang dada ketika bertukar pikiran membahas masalah-masalah yang ada di keluarganya dengan adil. Pada malam hari, ia akan mengajak istrinya untuk bermunajat menghadap Allah bersama-sama, meminta kepada Allah sebuah keluarga yang mendapatkan perlindungan-Nya pada saat tiada lagi perlindungan lain selain hanya dari-Nya

Rahasia dari semua itu adalah perjuangan maksimal untuk memiliki ilmu tentang hal tersebut. Ilmu inilah yang akan membangun kebahagiaan di rumah tangga. Dengan ilmu ini, seorang suami atau istri akan berbuat apa pun dengan penuh keikhlasan dan merasa ridha dalam melayani dan berkhidmat terhadap pasangannya masing-masing.***
Wahai Tuhan kami! Karuniakanlah kepada kami istri dan keturunan yang menjadi cahaya mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang memelihara dirinya (dari kejahatan)." (Q.S. Al-Furqaan [25]:74)
Ciri-ciri dari yang dimaksud oleh doa ini adalah istri yang menyejukkan ketika dipandang, dapat menjadi teladan bagi siapa pun. Ia juga tidak akan pernah memperlihatkan wajah yang muram durja, berbicara ketus dan rona wajah yang menyeramkan. Akhlaknya akan terlihat jauh lebih indah dibanding kecantikan wajah dan tubuhnya. 
Akhlaknya akan tercermin dalam perilakunya sehari-hari, baik terhadap suami maupun orang lain di luar keluarganya. Dia senantiasa menghormati sang suami, meski suaminya berumur sama dengannya. Kata-kata yang keluar dari mulutnya terasa menyejukkan, bersih, dan penuh kearifan sehingga tidak pernah ada yang terlukai. 
Oleh karena itu, meski ia terus beranjak tua dan berubah karena perjuangannya dalam melahirkan dan membesarkan anak-anak, namun wajahnya tetap terlihat cerah dan bersinar. Hal itu tiada lain karena cerminan dari suasana hati yang senantiasa bersih dan bening. Di samping itu, ia juga akan senantiasa bersyukur, menghadapi setiap kejadian dengan sabar dan yakin akan pelajaran dari Allah. 
Istri seperti ini tidak pernah meminta hal yang menjadi ketidakmampuan suaminya. Ia tidak pernah mau didahului bangun oleh suaminya, melainkan terlebih dahulu salat dan munajat kepada Allah. Ia juga akan senantiasa memohon izin kepada suaminya untuk melakukan apa pun yang akan ia kerjakan. Inilah sesungguhnya yang dimaksudkan dengan istri salehah yang menjadi perhiasan paling berharga bagi para suami. 


Sekali lagi, ini di ambil dari Harian Pikiran Rakyat, Topik; Manajemen Qolbu 

Entah apakah anda berpikir, bisa atau tidak bisa

Di British Columbia, dibangun sebuah penjara baru untuk menggantikan penjara Fort Alcan lama yang sudah digunakan untuk menampung para narapidana selama ratusan tahun. Setelah para napi dipindahkan ke tempat tinggal mereka yang baru, mereka menjadi bagian dari pasukan pekerja untuk mencopoti kayu, alat-alat listrik, dan pipa yang masih dapat digunakan dari penjara lama. Di bawah pengawasan para penjaga, napi-napi itu mulai melucuti dinding-dinding penjara lama.

Saat mereka melakukannya, mereka terperanjat oleh apa yang mereka temukan. Walaupun gembok-gembok besar mengunci pintu-pintu logam, dan batangan-batangan baja dua inci menutupi jendela sel-sel, dinding-dinding penjara itu sebenarnya terbuat dari kertas dan tanah liat, dicat sedemikian rupa sehingga menyerupai besi! Jika ada dari para narapidana yang memukul atau menendang dinding itu dengan keras, mereka dengan mudah dapat membuat lubang di situ, dan melarikan diri. Selama bertahun-tahun, bagaimanapun juga, mereka tinggal berjubel dalam sel-sel terkunci mereka, menganggap bahwa melarikan diri adalah sesuatu yang mustahil.

Tak seorang pun pernah MENCOBA melarikan diri, karena mereka BERPIKIR itu mustahil.

Saat ini, banyak orang merupakan tawanan rasa takut. Mereka tak pernah berusaha mengejar impian-impian mereka karena berpikir bahwa itu merupakan sesuatu yang mustahil. Bagaimana Anda tahu bahwa Anda tak dapat berhasil bila Anda tidak mencoba? 


shy and unknown bf'ers

Senin, 29 November 2010

Mengapa berteriak

Suatu hari sang guru bertanya pada murid-murid nya; "Mengapa ketika
seseorang sedang marah, ia akan berbicara dengan suara keras atau 
berteriak?
Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan 
menjawab;
"Karena saat itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu
berteriak"
"Tapi.." sang guru balik bertanya, "lawan bicaranya justru berada di
sampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara 
secara
halus?"
Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut
pertimbangan mereka. Namun tak satupun jawabannya yang memuaskan.

"Ketika dua orang sedang berasa dalam situasi kemarahan, jarak antara 
ke dua
hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begiu dekat. 
Karena
itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak. namun
anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi 
marah
dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun 
menjadi
lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras 
lagi."

Sang guru masih melanjutkan...
"Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta? 
Mereka
tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang 
keluar
dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apapun, keduanya bisa
mendengarkan dengan begitu jelas.Mengapa demikian?"

Sang guru bertanya sambil memperhatikan para muridnya. Mereka nampak
berpikir amat dalam namun tak satupun berani memberikan jawaban.

"Karena hari mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada 
akhirnya
sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangna mata saja amatlah
cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan."

Sang guru masih melanjutkan...
"Ketika anda sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan 
jarak.
Lebih lagi hendaknya kamu tidak mengucapkan kata yang mendatangkan 
jarak di antara kamu. Mungkin di saat seperti itu, tak mengucapkan kata-kata 
mungkinmerupakan cara yang bijaksana. Karena waktu akan membantu anda.

Sudut Pandang

Hampir semua hal di dalam kehidupan kita sehari-hari kita bisa mempunyai sudut pandang yang belum tentu sudut pandang kita sama dengan sudut pandang yang dimiliki oleh orang lain. Dalam suatu persoalan, kita bisa saja memandangnya secara negatif, atau berburuk sangka, namun alangkah baiknya jika kita menyikapi segala persoalan dengan suatu sikap yang positif, walau hal tersebut seburuk apapun.

Suatu contoh kasus yang lainnya adalah; 
pada suatu pagi, sebuah keluarga sedang menyantap sarapan yang disediakan oleh sang ibu rumah tangga. Namun masakan yang di masak oleh sang ibu ternyata kurang matang. Sang ayah langsung marah2 kepada si ibu, hingga beberapa menit lamanya, namun karena beberapa menit itulah, membuat sang ayah terjebak oleh jam macet, sang anak menjadi terlambat sekolah yang kebetulan sedang ujian, sang ayah terlambat masuk dan mendapat teguran dari atasan, sedangkan sang ibu menangis dirumah sendirian.

Bandingkan dengan;
Pada suatu pagi, sebuah keluarga sedang menyantap sarapan yang di sediakan oleh sang ibu rumah tangga. Namun masakan yang di masak oleh sang ibu ternyata kurang matang. Sang ayah sambil tersenyum memberitahukan kepada sang ibu bahwa masakan tersebut nikmat, namun sedikit kurang matang, tanpa meluapkan emosi. Dan segera setelah sarapan selesai Sang ayah bisa langsung berangkat mengantar sang anak ke sekolah dan sang ayah pun pergi ke tempatnya bekerja. Sang ibu pun bisa mengerjakan kegiatannya tanpa suatu perasaan yang hancur.

Seorang cendikiawan pernah berkata, “untuk menyelesaikan suatu masalah, anda perlu sudut pandang yang bagus sehingga anda bisa memahami masalah yang anda hadapi, kemudian selesaikanlah masalah yang anda hadapi dengan melakukan langkah penyelesaian yang tepat, agar masalah yang anda hadapi dapat selesai secara tuntas dan efisian”. 

Lalu, bagaimanakah anda menyelesaikan suatu masalah yang anda temui pada kehidupan anda??

Semoga tulisan ini dapat bermanfaat dalam kehidupan anda..
(Zulfakar, 10 Februari 2006) 

Impian dan Harapan

Kedua hal tersebut di atas adalah sumber semangat yang amat sangat tidak terbatas. Bila pada suatu saat kita merasa kehilangan semangat, hendaklah kita kembali ke awal dan mengingat lagi harapan serta impian kita.

Bila kita pikirkan, di dalam hidup ini kita selalu mengharapkan sesuatu; dengan berharap menjadi orang yang pintar maka kita bersekolah, dengan mengharapkan mendapatkan cinta dari si X maka kita selalu berbuat yang menarik perhatiannya, dsb.

Sebagai manusia, kita di berikan juga akal pikiran yang akal pikiran tersebut sering kali kita salah gunakan. Namun kita juga harus sadar bahwa dengan akal pikiran tersebut kita dapat membuat impian dan harapan kita menjadi kenyataan.

Namun kita juga harus menyadari bahwa kita adalah seorang manusia yang mempunyai keterbatasan dan ketergantungan. Jadi walaupun terkadang impian dan harapan kita tidaklah terwujud menjadi kenyataan, kita harus puas dengan hasil yang kita dapatkan dari “usaha secara maksimal”.

Kita harus sadar bahwa di suatu tempat di sana ada suatu Zat yang maha berkehendak dan kita tak boleh berputus asa kepadaNya. Sebagai seorang manusia berakal beserta segala keterbatasan dan ketergantungannya, yang dapat kita lakukan adalah berharap, dan memperjuangkan harapan kita agar menjadi kenyataan.

Tanpa harapan dan impian kita adalah makhluk tanpa tujuan, dan jika kita tidak mempunyai tujuan, maka kita bisa disamakan dengan benda mati, karena “seekor binatang pun mempunyai tujuan di dalam hidupnya”.

Dunia tidaklah akan seindah seperti sekarang ini bila tidak ada seorang pemimpi. Namun Pemimpi akan tetap menjadi pemimpi jika dia tidak memperjuangkan impiannya menjadi sebuah kenyataan. Hal itu lah yang membedakan antara seorang pemimpi dan seorang penemu.

Jadi, mulai sekarang, marilah kita mengingat kembali impian dan harapan kita, dan memperjuangkannya menjadi sebuah kenyataan. Dan ada satu hal lagi yang kita tidak boleh lupakan dari awal hingga akhir usaha kita dalam mewujudkan impian kita, yaitu tetap berdoa kepada Zat yang maha berkuasa atas segala sesuatu.
(Zulfakar, 2 Maret 2003)