Rabu, 20 Oktober 2010

Cobaan = Dicintai

Banyak orang bilang…ketika kita dalam sebuah masalah atau sedang menghadapi cobaan itu berarti kita sedang diperhatikan Allah. Kita dianggap sedang mengerjakan ujian hidup, bisa tidak naik ke kelas kehidupan yang lebih tinggi dan berkualitas.

Kalau kita termasuk orang-orang yang sadar dan sabar, Insya Allah akan berhasil, walaupun dalam perjalanannya sering sekali kita mengeluh, menangis, marah dan frustasi, tapi pada akhirnya kita akan sampai pada titik kepasrahan dan selanjutnya berlahan-lahan sampai pada titik iklas. 

Adalah bukan dalam waktu yang singkat, bahkan tidak ada ukuran yang baku kapan dan bagaimana membuat kita sampai pada titik iklas dalam menghadapi setiap cobaan hidup. Pada sebagian kecil orang ada yang bisa dengan cepat merasa iklas, biasanya mereka sudah berlatih dan berpengalaman dalam menata hati mereka.

Menata hati
Menurut aku,”hati” manusia itu adalah “sesuatu” yang manusia sendiri tidak bisa memaksakan diri untuk menjadi tuannya. “Hati” kita lebih sering mengatur dirinya sendiri. Sehingga ada kata “sekehendak hati” atau sering kita dengar “bertentangan dengan hati”. Karena “hati” kita terkadang tidak mau menurut dengan apa yang diperintahkan oleh otak kita. “Hati” kita bisa hidup sendiri. Bisa memiliki sudut pandang tanpa logika.

Kunci iklas dalam menghadapi cobaan adalah “hati”,yang kemudian menyapa otak untuk berpikir dengan logika. Bukan sedang berteori, aku hanya berusaha memahaminnya dari apa yang aku alami sendiri.

Ketika semua orang memandang atau berkata iba kepadaku yang pada saat itu sudah 8 tahun menikah dan belum juga dikaruniai anak, aku sudah terbiasa. Jangan ditanya bagaimana perasaanku 3-5 tahun yang lalu….sedih, nelangsa, marah, dan selalu bertanya “Kenapa?”.

Setiap aku mengunjungi teman atau kerabat yang baru melahirkan, batinku menangis, kenapa aku tidak bisa seperti mereka?, kenapa aku?. Setiap bayi baru lahir yang aku peluk, kerongkonganku tercekat, batinku berteriak, “kenapa dia bukan anakku?”.

Dalam setiap sujud malam aku menangis, penuh do’a, memohon belas kasihan Nya kepadaku, berusaha menunjukan dan meyakinkanNYA bahwa begitu banyak cinta , kasih sayang dan mimpi yang akan aku berikan kepada sebuah mahluk mungil dari darah dan dagingku, yang tumbuh dalam rahim istriku, yang aku perjuangkan hidup matiku, yang dititipkan dalam hidupku. Aku berusaha… Aku yakin doaku di dengarNYA. aku berharap tangisku menggetarkan kursiNYA. Aku akan terus memohon…tiada jemu.

Ada juga masa-masa dimana aku marah kepada istriku. Merasa dia tidak mendukung usahaku, tidak berusaha menjadikan aku seorang lelaki sempurna (dan aku membuatnya sedih).

Time will heal the pain…
Ternyata memang waktu juga yang berbicara, membuat aku terlatih untuk sabar. Berlatih terus dengan segala sakit dan marah yang aku rasakan dalam hatiku, membuat aku terbiasa dan kebal. Dari situlah perlahan-lahan tanpa aku minta tumbuh rasa pasrah. Kemudian dari hati yang pasrah menyapa otak untuk terbuka pikirannya. Melalui perenungan-perenungan yang panjang…sampai kepada pemikiran…inilah wujud cinta Allah kepada ku. Sesuatu yang aneh dan lama, untuk aku menyadari besarnya cinta Beliau kepadaku.

Perlahan tanpa aku minta, satu persatu alasan Allah belum memberiku seorang anak, muncul begitu saja dalam benakku, berkelebat seperti tergambar dalam sebuah film….tidak seketika. Gambaran itu hadir disaat-saat aku tidak sedang memohon, tidak sedang “sakit hati melihat bayi”, bahkan tidak sedang berdoa.. Biasanya malah dengan sebuah kejadian/peristiwa yang cenderung sepele sekali. 

Subhanallah….Beliau menegurku dengan indah, membuat aku malu kepada diriku sendiri, membuat aku sadar betapa begitu banyak Allah telah berikan ke aku. Dari situ aku melihat jauh kedalam siapa aku, siapa istriku, apa mauku, apa mau istriku, dan juga gambaran masa depan kami berdua. Aku tidak bisa menyamakan “jatah” kebahagiaan orang lain dengan “jatah” kebahagiaanku. Aku mempunyai cerita bahagiaku sendiri, dan inilah hidupku dengan segala alasan yang sudah sangat cocok dengan aku.

Iklas….Alhamdulillah, sedikit banyak aku merasa sudah menapaki posisi ini. Hilang sudah rasa marah dan frustasi. Walau kadang-kadang rasa sedih masih suka mengganggu, tapi aku yakin…karena aku baru dalam proses iklas ini. Batin ini terasa sejuk, ini bentuk Allah mencintai aku. Allah menyayangi aku. Kadang-kadang dengan cara yang aneh,karena tidak bisa dimengerti oleh orang lain.

Bila orang lain berkata, ini cobaan/ ujian hidupku….aku sekarang bisa berkata..ini tanda kecintaan Allah kepadaku, dan aku akan selalu mensyukurinya....…

Amin.


Note:
Cinta Allah ternyata masih menyirami kami dengan derasnya hingga akhirnya kami dikaruniai seorang buah hati perempuan yang begitu sehat dan lucu pada tanggal 10 Juni 2010.


By CG Bf member

Tidak ada komentar:

Posting Komentar