Selasa, 19 Oktober 2010

Refleksi

Alkisah, seorang kakek di Baghdad pergi ke berbagai negeri mencari kebahagiaan tadi. Di sebuah oase, dia melihat seekor burung pipit yang sangat indah. Dia berhasil menangkapnya. Burung ini ternyata bisa bicara. "Kakek, tolong lepaskan saya, nanti permintaan kakek akan saya penuhi," kata si burung.

"Baik, kalau dapat menjawab pertanyaan saya, kamu saya lepaskan," kata si
kakek. "Di mana, kapan, dan bagaimana memperoleh kebahagian?"

Pertama, jawab si burung, jangan percaya siapa pun kecuali Tuhan. Kedua,
jangan berharap sesuatu yang kamu tak akan sanggup mendapatkannya. Ketiga,
jangan sesali masa lalumu.
Merasa puas, si kakek melepaskan burung itu. Tapi, begitu dilepas, si burung
meledek manusia tua itu. "Dasar kakek bodoh," kata hewan itu. "Sebetulnya,
kalau kakek tidak melepaskan saya, saya akan memberikan telur emas."

Si kakek sangat menyesal dan mengejar burung itu. Hewan ini lalu hinggap di
ranting pohon cemara. Kakek yang penasaran ini lantas berusaha meraihnya dan
... dia terjatuh lalu pingsan.
Ketika kakek ini siuman, burung tersebut mendekatinya. "Dasar manusia, baru
beberapa menit saya beri petunjuk meraih kebahagiaan, kamu sudah lupa lagi.
Ingat Kek, apa yang saya katakan tadi. Kakek jangan percaya pada siapa pun
kecuali Tuhan! Saya ini burung, mengapa Kakek percaya saya?"

"Kedua, tadi saya katakan jangan berharap pada sesuatu yang kamu tidak dapat
meraihnya. Karena Kakek melanggar, akhirnya Kakek jatuh dan pingsan."
"Ketiga," lanjut si burung, "Jangan sesali masa lalu. Mengapa Kakek
menyesal? Bukankah apa yang kakek kerjakan, yakni melepaskan saya, sudah
terjadi?"
Sambil terbang mengangkasa, burung ini mengaku malaikat utusan Tuhan untuk
memberikan pelajaran kepada umat manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar