Kamis, 14 Oktober 2010

Sudah cukupkah bekal kita?

Sore itu aku lagi naik bis jurusan Pare-Kediri. Entah mengapa penumpangnya sedikit sekali. Aku duduk di bangku nomor dua dari depan, sementara penumpang lainnya yang hanya berjumlah sekitar delapan orang duduk di belakang. Di bangku depan duduk kernet bus, kondektur dan seorang bapak dengan seragam awak bus juga. Belakangan baru kuketahui kalau dia juga sopir bus yang kebetulan akan pulang ke kediri. 

Semula kau tidak mengikuti perbincangan mereka yang kadang diikuti dengan tertawa lepas, namun kemudian aku tertarik pada apa yang mereka perbincangkan. Suatu hal yang belum pernah aku dengarkan sebelumnya. Awalnya mereka membicarakan seorang sopir bus teman mereka yang meningggal beberapa waktu yang lalu. 



"Kalian tahu? sejak aku ikut memandikan jenazah Bejo dulu itu, aku jadi insyaf bahwa kita ini harus siap mati kapan pun. Lihat saja Bejo, siapa yang mengira dia bakal mati gara-gara kecelakaan itu&;. Bapak sopir yang akan pulang itu memandang teman-temannya. Sopir bus yang sedang mengemudikan busnya melirik bapak itu lewat spion. 



Aku waktu itu berpikir bagaimana jika tiba-tiba aku mati seperti Bejo sementara aku belum mempunyai bekal yang cukup untuk kehidupan di akherat kelak. Sambungnya. Sopir, kernet dan kondektur bus itu tertawa. Aku jadi sedikit heran, namun Bapak itu masih tampak tenang. Rupanya kamu begitu terpengaruh dengan kematian Bejo ya? Makanya lain kali jangan ikut memandikan jenazah!&. 



Bukan begitu Rek!, seharusnya memang sudah waktunya kita berpikir tentang kehidupan di akherat kelak. Masa selama ini kita hanya menyibukkan diri kerja begini mengejar uang semata. Padahal hidup di dunia itu nggak abadi. Ya;. aku rasa kita perlu memulai mengingat Yang Di Atas yang selama ini kita abaikan . 



Wah, rupanya teman kita yang satu ini sudah mulai pandai berkhotbah,& kata kondektu buis sambil tertawa. Aku agak sedih mendengar kata-katanya. 



Ya ;aku ini hanya mengingatkan kalian, sebab semua Muslim itu bersaudara dan harus saling mengingatkan. Sekarang Alhamdulillah kalau hanya salat lima waktu saja aku tidak pernah ketinggalan.& 



Wah, kita bekerja menjalankan angkutan seperti ini bagaimana penumpang bisa mengerti?& tanya Pak Sopir. 



Aku rasa kalau ada niat pasti ada jalan. Lagipula kita bisa shalat di terminal sebelum bus berangkat. Trus kalau memang terpaksa harus salat di tengah perjalanan, mengapa kita tidak meminta pengertian dari para penumpang sekaligus mengajak mereka yang muslim untuk salat? Masa sih kepentingan ibadah kalah dengan keinginan penumpang?&. 



Aku memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah. Sopir bus, kondektur dan kernetnya terdiam. Ya, Allah bukakanlah pintu hati mereka seperti Engkau bukakan pintu hati Bapak sopir yang duduk di depanku itu. Amin. 



Alun-alun !& teriakan kernet membuat aku harus turun sekalipun aku enggan meninggalkan perbincangan itu. Aku berdiri dan berjalan ke pintu depan. 



Nah Mbak ini berjilbab. Aku jadi ingat bahwa kita sebagai suami dalam Islam diwajibkan untuk mengarahkan istri dan anak perempuan kita untuk menutup auratnya. Bukankah begitu Mbak?& 



Aku menoleh dan mengangguk. Awak bus yang didekatku memandangku.



Mbak tolong dijaga jilbabnya. Sekarang banyak wanita berjilbab tapi tingkahnya ngga; pantes.& 



Terima kasih Pak, mari semuanya. Assalamu;alaikum 



Wa;alaikumussalam.; 



Mereka menjawabku serentak. Termasuk Pak Sopir di belakang kemudi, kernet dan kondektur. Aku berjalan menapaki trotoar sambil berkali-kali mengucap subhanallah. 



Renungan: 



Sesungguhnya kita hidup di Dunia ini hanya sementara, dan segala yang kita miliki merupakan amanat dari Allah yang akan dimintai pertanggung-jawabannya kelak di akhirat. Kita ngga' mempunyai secuil sahampun terhadap jasmani kita, kekayaan kita, pangkat kita dll karena sesungguhnya itu semua Allah yang berikan kepada kita untuk dipergunakan sebaik-baiknya demi mencari keRidhoan-Nya. Jadi, kenapa kita trus menunda-nunda waktu untuk bersyukur kepada-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar