Sabtu, 16 Oktober 2010

Enam Batu Ujian Cinta

Bagaimana kami tahu bahwa cinta kami cukup dalam untuk menghantar kami ke arah berdampingan seumur hidup, menuju kepada kesetiaan yang sempurna? Bagaimana kami dapat yakin bahwa cinta kami ini cukup matang untuk diikat sumpah nikah serta janji untuk berdampingan seumur hidup sampai maut memisahkan? 

Pertama, Ujian untuk merasakan sesuatu bersama. 
Cinta sejati ingin merasakan bersama, memberi, mengulurkan tangan. 
Cinta sejati memikirkan pihak yang lainnya, bukan memikirkan diri sendiri. 
Jika kalian membaca sesuatu, pernahkah kalian berpikir, aku ingin 
membagi ini bersama sahabatku? Jika kalian merencanakan sesuatu, 
adakah kalian hanya berpikir tentang apa yang ingin kalian lakukan, 
ataukah apa yang akan menyenangkan pihak lain? Sebagaimana Herman Oeser, 
seorang 
penulis Jerman pernah mengatakan, "Mereka yang ingin bahagia 
sendiri,janganlah kawin. Karena yang penting dalam perkawinan ialah 
membuat pihak yang lain bahagia. - mereka yang ingin dimengerti pihak yang 
lain, 
janganlah kawin. Karena yang penting di sini ialah mengerti 
pasangannya." Maka batu ujian yang pertama ialah: 

"Apakah kita bisa sama-sama merasakan sesuatu? Apakah aku ingin menjadi 
bahagia atau membuat pihak yang lain bahagia?" 

Kedua, Ujian kekuatan. 
Saya pernah menerima surat dari seorang yang jatuh cinta, tapi sedang 
risau hatinya. Dia pernah membaca entah di mana, bahwa berat badan 
seseorang akan berkurang kalau orang itu betul-betul jatuh cinta. 
Meskipun dia sendiri mencurahkan segala perasaan cintanya, dia tidak 
kehilangan berat badannya dan inilah yang merisaukan hatinya. Memang 
benar, bahwa pengalaman cinta itu juga bisa mempengaruhi keadaan 
jasmani. Tapi dalam jangka panjang cinta sejati tidak akan menghilangkan 
kekuatan kalian; bahkan sebaliknya akan memberikan kekuatan dan tenaga 
baru pada kalian. Cinta akan memenuhi kalian dengan kegembiraan serta 
membuat kalian kreaktif, dan ingin menghasilkan lebih banyak lagi. 
Batu ujian kedua : 

"Apakah cinta kita memberi kekuatan baru dan memenuhi kita dengan tenaga 
kreaktif, ataukah cinta kita justru menghilangkan kekuatan dan tenaga 
kita?" 

Ketiga, Ujian penghargaan. 
Cinta sejati berarti juga menjunjung tinggi pihak yang lain. Seorang 
gadis mungkin mengagumi seorang jejaka, ketika ia melihatnya bermain 
bola dan mencetak banyak gol. Tapi jika ia bertanya pada diri sendiri, 
"apakah aku mengingini dia sebagai ayah dari anak-anakku?", jawabnya 
sering sekali menjadi negatif. Seorang pemuda mungkin mengagumi seorang 
gadis, yang dilihatnya sedang berdansa. Tapi sewaktu ia bertanya pada 
diri sendiri, "apakah aku mengingini dia sebagai ibu dari anak-anakku?", 
gadis tadi mungkin akan berubah dalam pandangannya. Pertanyaannya ialah: 

"Apakah kita benar-benar sudah punya penghargaan yang tinggi satu kepada 
yang lainnya? Apa aku bangga atas pasanganku?" 

Keempat, Ujian kebiasaan. 
Pada suatu hari seorang gadis Eropa yang sudah bertunangan datang pada 
saya. Dia sangat risau, "Aku sangat mencintai tunanganku," katanya, 
"tapi aku tak tahan caranya dia makan apel." Gelak tawa penuh pengertian 
memenuhi ruangan. "Cinta menerima orang lain bersama dengan 
kebiasaannya. Jangan kawin berdasarkan paham cicilan, lalu mengira bahwa 
kebiasaan-kebiasaan itu akan berubah di kemudian hari. Kemungkinan besar 
itu takkan terjadi. Kalian harus menerima pasanganmu sebagaimana adanya 
beserta segala kebiasaan dan kekurangannya. Pertanyaannya: 

"Apakah kita hanya saling mencintai atau juga saling menyukai?" 

Kelima, Ujian pertengkaran. 
Bilamana sepasang muda mudi datang mengatakan ingin kawin, saya selalu 
menanyakan mereka, apakah mereka pernah sesekali benar-benar bertengkar 
- tidak hanya berupa perbedaan pendapat yang kecil, tetapi benar-benar 
bagaikan berperang. Seringkali mereka menjawab, "Ah, belum pernah, pak, 
kami saling mencintai." Saya katakan kepada mereka, "Bertengkarlah 
dahulu - barulah akan kukawinkan kalian." Persoalannya tentulah, bukan 
pertengkarannya, tapi kesanggupan untuk saling berdamai lagi. Kemampuan 
ini mesti dilatih dan diuji sebelum kawin. Bukan seks, tapi batu ujian 
pertengkaranlah yang merupakan pengalaman yang "dibutuhkan" sebelum 
kawin. Pertanyaannya: 

"Bisakah kita saling memaafkan dan saling mengalah?" 

Keenam, Ujian waktu. 
Sepasang muda mudi datang kepada saya untuk dikawinkan. "Sudah berapa 
lama kalian saling mencintai?" Tanya saya. "Sudah tiga, hampir empat 
minggu," jawab mereka. Ini terlalu singkat. Menurut saya minimum satu 
tahun bolehlah. Dua tahun lebih baik lagi. Ada baiknya untuk saling 
bertemu, bukan saja pada hari-hari libur atau hari minggu dengan 
berpakaian rapih, tapi juga pada saat bekerja di dalam hidup 
sehari-hari, waktu belum rapi, atau cukur, masih mengenakan kaos oblong, 
belum cuci muka, rambut masih awut-awutan, dalam suasana yang tegang 
atau berbahaya. Ada suatu peribahasa kuno, "Jangan kawin sebelum 
mengalami musim panas dan musim dingin bersama dengan pasanganmu." 
Sekiranya kalian ragu-ragu tentang perasaan cintamu, sang waktu akan 
memberi kepastian. Tanyakan: 

"Apakah cinta kita telah melewati musim panas dan musim dingin? Sudah 
cukup lamakah kita saling mengenal?" 

Dan izinkan saya memberikan suatu kesimpulan yang gamblang. Seks bukan 
batu ujian bagi cinta. 
"Jika sepasang muda mudi ingin punya hubungan seksual untuk mengetahui 
apakah mereka saling mencintai, perlu ditanyakan pada mereka, "Demikian 
kecilnya cinta kalian?" Jika kedua-duanya berpikir, "Nanti malam kita 
mesti melakukan seks - kalau tidak pasanganku akan mengira bahwa aku 
tidak mencintai dia atau bahwa dia tidak mencintai aku," maka rasa takut 
akan kemungkinan gagal sudah cukup menghalau keberhasilan percobaan itu. 
Seks bukan suatu batu ujian bagi cinta, sebab seks akan musnah saat 
diuji. Cobalah adakan observasi atas diri saudara sendiri pada waktu 
saudara pergi tidur. Saudara mengobservasi diri sendiri, kemudian tidak 
bisa tidur. Atau saudara tidur, kemudian tidak lagi bisa mengobservasi 
diri sendiri. Sama benar halnya dengan seks sebagai suatu batu ujian 
untuk cinta. Saudara menguji, sesudah itu tidak lagi mau mencintai. Atau 
saudara mencintai, kemudian tidak menguji. Untuk kepentingan cinta itu 
sendiri, cinta perlu mengekang menyatakan dirinya secara jasmaniah 
sampai bisa dimasukkan ke dalam dinamika segitiga perkawinan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar